Menumbuhkan
Minat Baca Tulis Melalui Gerakan Literasi Sekolah
Gerakan
literasi sekolah merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif
dengan melibatkan warga sekolah ( peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga
kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/ wali murid),
akademisi, penerbit, media massa, masyarakat.
Program
literasi sekolah di Kabupaten Magelang beberapa tahun ini mulai digerakkan. Program
literasi tersebut adalah Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Berdasarkan visi dari
Kabupaten Magelang bahwa setiap sekolah harus melaksanakan program literasi dan
meningkatkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Pada akhir kelas VI diharapkan
setiap siswa sudah membaca minimal 30 judul buku. Masing-masing guru kelas bisa
mencatat setiap siswa sudah membaca berapa judul buku setiap minggunya. Program
literasi pada setiap sekolah tentunya berbeda.
Pada SD Negeri Grabag 1, Kecamatan Grabag, Kabupaten
Magelang, kegiatan literasi sekolah ada beberapa kegiatan, di antaranya:
1. Jadwal
wajib kunjung perpustakaan
Jadwal berkunjung ke perpustakaan
adalah contoh program gerakan literasi yang bisa dilaksanakan di sekolah.
Program ini bisa diimplementasikan dengan cara menyusun jadwal sedemikian rupa
sehingga setiap kelas bisa mengunjungi perpustakaan. Bukan hanya berkunjung
saja, tetapi diwajibkan pula siswa untuk meminjam buku, menyusun resume atau
sinopsis dari beberapa lembar buku yang telah dibacanya kemudian
wajibkan pula siswa untuk mengembalikan buku.
2. Membaca
mandiri
Siswa
membaca mandiri diikuti kegiatan lain dengan membuat peta pikiran maupun
meringkas/membuat sinopsis.
3. Pemberdayaan
mading setiap kelas
Pemberdayaan
mading di setiap kelas ini dilakukan dengan cara mewajibkan siswa untuk membaca
bebas atau pun mencari referensi apa pun di sekitar sekolah setidaknya selama
10 menit. Setelah itu, siswa membuat laporan, karangan ataupun resume dari apa
yang dibacanya ataupun diamatinya, dan hasilnya tempelkan pada mading kelas.
Sebagai langkah awal, program ini bisa dilakukan setiap seminggu sekali. Setiap siswa dibagi dalam kelompok dan menentukan tema yang akan
dibuat mading.
4. Membaca
buku non pelajaran sebelum proses belajar dimulai
Buku
non pelajaran yang dimaksudkan di sini bisa berupa buku cerita, novel ataupun
buku jenis lain yang lebih mengajarkan nilai budi pekerti, kearifan lokal,
nasionalisme dan lain-lain yang lebih disesuaikan pada tahap perkembangan
siswa. Jadi, bukan buku teks pelajaran yang dibaca siswa
pada saat pelajaran di kelas.
5. Posterisasi
sekolah
Membuat
poster-poster yang berisi ajakan, motivasi maupun kata mutiara yang ditempel
atau digantung di beberapa spot di kelas atau di sekolah. Seperti khususnya di
kelas VI, pada siswa yang saya ampu, kebetulan pada materi semester 1 ada
materi mengenai poster. Sehingga siswa memperoleh materi mengenai poster,
mereka mempraktikkan untuk membuat poster, dan menempelkan pada dinding kelas.
6. Membuat
pohon literasi di setiap kelas
Pohon
literasi bisa dibuat oleh siswa secara mandiri. Nantinya daun-daun yang ada
pada pohon literasi bisa ditulis dengan nama-nama siswa sekelas/ cita-cita
siswa/ karakter mulia yang harus dilakukan.
7. Membuat
sudut baca di beberapa kelas di sekolah
Sudut baca
merupakan suatu tempat khusus di bagian kelas/sekolah di mana tersedia kumpulan
buku bacaan dan tempat duduk yang nyaman untuk membaca. Tempatnya bisa di depan
kelas, pojok kelas, samping mushola sekolah, dll. Pojok baca di SDN Grabag 1
berada di pojok kelas dengan beberapa buku bacaan yang bisa dibaca siswa di
waktu senggang/ pada saat istirahat.
8. Membuat
papan karya literasi siswa di setiap kelas
Papan
karya literasi adalah sebuah papan untuk menempelkan hasil karya literasi
siswa. Papan karya literasi ini diprogramkan di setiap kelas. Setiap kelas yang
membuat mading, mereka mengisi mading yang sudah ditentukan temanya dan mengisi
dengan cerita-cerita anak seperti cerita anak, atau ilustrasi-ilustrasi
mengenai fakta unik tumbuhan maupun hewan.
9. Membuat
dinding motivasi di setiap kelas
Dinding
motivasi adalah sebuah hiasan dinding kelas yang berisi kata-kata motivasi
untuk menginspirasi siswa. Pada setiap kelas terdapat kata-kata motivasi untuk
menginspirasi siswa, bisa diprintkan dan ditempel, bisa ditulis tangan dan
dikreasikan menurut kreativitas anak-anak.
10. Mengadakan reading
award/ lomba duta literasi sekolah
Agenda reading
award/ lomba duta literasi sekolah merupakan salah satu program alternatif
untuk memotivasi anak dalam ber-literasi. Beberapa kriteria untuk menjadi duta
literasi sekolah antara lain adalah siapa peminjam buku perpustakaan terbanyak
dalam setiap triwulan / siapa yang berhasil menyelesaikan banyak buku untuk
dibaca dalam setiap triwulan, dll.
11. One
Child Book
Siswa
menyumbangkan 1 buku untuk perpustakaan sekolah. Pada akhir tahun ajaran/
kenaikan kelas, siswa menyumbangkan 1 buku untuk referensi/tambahan buku
perpustakaan.
Hal yang
perlu diperhatikan dalam melaksanakan Gerakan Literasi Sekolah:
ü Memberikan
contoh/teladan kepada para siswa supaya siswa menjadi terggerak saat melihat
para gurunya membaca. Tak hanya guru saja, ini juga perlu dilakukan oleh semua
warga sekolah termasuk kepala sekolah bahkan kalau perlu hingga penjaga sekolah
juga.
ü Memberikan
akses yang mudah supaya siswa bisa tertarik mendatangi perpustakaan. Misal di
perpustakaan terdapat wifi dan proyektor seperti di sekolah kami. Dengan adanya
wifi dan proyektor, guru memberikan kesempatan siswa satu kelas untuk melihat
film berdurasi pendek dan petugas perpustakaan bisa menampilkan film durasi
pendek yang memiliki nilai-nilai karakter siswa. Setelah siswa dalam satu kelas
menonton film, siswa diberikan tugas untuk membuat sinopsis cerita film yang
baru saja dilihat. Selain itu siswa diminta menuliskan unsur-unsur
cerita seperti judul cerita, tokoh, penokohan/karakter tokoh, alur,
seting/latar, dan amanat cerita.
Pembiasaan
Membaca di rumah:
1. Meningkatkan
rasa cinta membaca di lingkungan keluarga.
2. Meningkatkan
kemampuan memahami bacaan dan berpikir kritis.
3. Meningkatkan
kemampuan menganalisis dan kemampuan verbal dalam mengulas informasi yang telah
didapat dari bacaan.
4. Mempererat
ikatan dan hubungan personal dalam keluarga inti.
5. Menciptakan
budaya literasi di lingkungan keluarga.
6. Mengembangkan
kearifan lokal, nasional, dan global.
SD Negeri Grabag 1 terdiri dari
24 rombongan belajar dengan setiap tingkatan kelas terdiri dari 4 kelas.
Misalnya kelas I terdiri dari 4 kelas, yaitu kelas IA, IB, IC, dan ID.
Anak-anak selalu dibiasakan untuk membaca buku cerita di perpustakaan sesuai
dengan jadwal kunjung perpustakaan.
Untuk
kelas VI jadwal kunjung perpustakaan setiap hari Sabtu. Namun tidak menutup
kemungkinan jika sebelum hari Sabtu anak-anak ada yang ingin meminjam buku
perpustakaan untuk mencari referensi materi yang sedang diajarkan oleh guru.
Pembiasaan untuk siswa kelas VI adalah meminjam buku di perpustakaan dan mereka
diberikan kesempatan untuk membaca. Setelah membaca, mereka diminta untuk
menuliskan sinopsis cerita yang mereka baca.
Mereka
menuliskan sinopsis cerita yang mereka baca pada buku literasi. Buku literasi
dipersiapkan oleh siswa di awal tahun pelajaran. Buku literasi itu berisi
sinopsis cerita yang mereka baca lalu mereka tulis. Guru memberikan saran,
kritik terhadap tata penulisan sinopsis yang mereka buat. Baik penggunaan huruf
kapital, pemenggalan suku kata, tanda baca. Dari penggunaan huruf kapital yang
masih salah, maka kita berikan catatan, pemenggalan suku kata yang masih salah
juga kita lingkari dengan tinta merah, begitu juga penggunaan tanda baca.
Dengan
adanya buku literasi tersebut sangat membantu guru dalam melihat siswa yang
sudah terbiasa membuat sinopsis cerita dengan siswa yang jarang membaca. Dengan
adanya beberapa catatan siswa dalam buku literasi sangat membantu dalam mengoreksi
tata penulisan mereka. Sehingga semakin hari, sinopsis yang mereka buat semakin
baik.
Selain
itu, guru juga mengajak siswa untuk membuat cerpen, puisi, pantun, syair,
maupun karya tulis. Kemudian karya siswa tersebut dikirim melalui penerbit.
Dari buku hasil terbitan karya siswa tersebut membuat siswa semakin termotivasi
dalam membuat karya dan mulai membuat mereka tertarik dalam menulis. Di samping
itu, siswa karya siswa akan menambah referensi buku di perpustakaan sekolah
pada khususnya, dan literasi untuk negeri pada umumnya.
Guru
dan semua warga sekolah tidak mau kalah dengan siswa, setiap hari juga selalu
melakukan kegiatan literasi. Misal sebagai warga sekolah selalu membaca koran,
majalah, maupun artikel yang ada di sekolah. Guru juga mengembangkan kegiatan
literasi dengan membuat karya seperti cerpen, novel, maupun puisi untuk
menunjang kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ( PKB) guru yang
berguna saat guru mengajukan Penilaian Angka Kredit (PAK). Selain itu karya
guru yang dikirim melalui penerbit, tentunya akan menambah jejak guru sebagai
penulis yang bisa dijadikan warisan bagi anak, cucu. Dan yang pasti bisa untuk
menambah literasi bagi negeri.
Awalnya
karena sebuah tuntutan sebagai PNS yang harus membuat karya untuk mengajukan
PAK, namun akhirnya guru-guru mulai menikmati dalam membuat karya. Dari yang
semula kurang berminat membuat karya tulisan, akhirnya menjadi semakin
termotivasi membuat karya tulisan. Tentunya jejak tulisan kita tidak akan
pernah sia-sia.
No comments:
Post a Comment