Wednesday, May 6, 2020



Menumbuhkan Minat Baca Tulis Melalui Gerakan Literasi Sekolah

         Gerakan literasi sekolah merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah ( peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/ wali murid), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat.
            Program literasi sekolah di Kabupaten Magelang beberapa tahun ini mulai digerakkan. Program literasi tersebut adalah Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Berdasarkan visi dari Kabupaten Magelang bahwa setiap sekolah harus melaksanakan program literasi dan meningkatkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Pada akhir kelas VI diharapkan setiap siswa sudah membaca minimal 30 judul buku. Masing-masing guru kelas bisa mencatat setiap siswa sudah membaca berapa judul buku setiap minggunya. Program literasi pada setiap sekolah tentunya berbeda.
Pada SD Negeri Grabag 1, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, kegiatan literasi sekolah ada beberapa kegiatan, di antaranya:
1.        Jadwal wajib kunjung perpustakaan
Jadwal berkunjung ke perpustakaan adalah contoh program gerakan literasi yang bisa dilaksanakan di sekolah. Program ini bisa diimplementasikan dengan cara menyusun jadwal sedemikian rupa sehingga setiap kelas bisa mengunjungi perpustakaan. Bukan hanya berkunjung saja, tetapi diwajibkan pula siswa untuk meminjam buku, menyusun resume atau sinopsis  dari beberapa lembar buku yang telah dibacanya kemudian wajibkan pula siswa untuk mengembalikan buku.
2.        Membaca mandiri
Siswa membaca mandiri diikuti kegiatan lain dengan membuat peta pikiran maupun meringkas/membuat sinopsis.
3.        Pemberdayaan mading setiap kelas
Pemberdayaan mading di setiap kelas ini dilakukan dengan cara mewajibkan siswa untuk membaca bebas atau pun mencari referensi apa pun di sekitar sekolah setidaknya selama 10 menit. Setelah itu, siswa membuat laporan, karangan ataupun resume dari apa yang dibacanya ataupun diamatinya, dan hasilnya tempelkan pada mading kelas. Sebagai langkah awal, program ini bisa dilakukan setiap seminggu sekali. Setiap siswa dibagi dalam kelompok dan menentukan tema yang akan dibuat mading.
4.        Membaca buku non pelajaran sebelum proses belajar dimulai
Buku non pelajaran yang dimaksudkan di sini bisa berupa buku cerita, novel ataupun buku jenis lain yang lebih mengajarkan nilai budi pekerti, kearifan lokal, nasionalisme dan lain-lain yang lebih disesuaikan pada tahap perkembangan siswa. Jadi, bukan buku teks pelajaran yang dibaca siswa pada saat pelajaran di kelas.
5.        Posterisasi sekolah
Membuat poster-poster yang berisi ajakan, motivasi maupun kata mutiara yang ditempel atau digantung di beberapa spot di kelas atau di sekolah. Seperti khususnya di kelas VI, pada siswa yang saya ampu, kebetulan pada materi semester 1 ada materi mengenai poster. Sehingga siswa memperoleh materi mengenai poster, mereka mempraktikkan untuk membuat poster, dan menempelkan pada dinding kelas.
6.        Membuat pohon literasi di setiap kelas
Pohon literasi bisa dibuat oleh siswa secara mandiri. Nantinya daun-daun yang ada pada pohon literasi bisa ditulis dengan nama-nama siswa sekelas/ cita-cita siswa/ karakter mulia yang harus dilakukan.
7.        Membuat sudut baca di beberapa kelas di sekolah
Sudut baca merupakan suatu tempat khusus di bagian kelas/sekolah di mana tersedia kumpulan buku bacaan dan tempat duduk yang nyaman untuk membaca. Tempatnya bisa di depan kelas, pojok kelas, samping mushola sekolah, dll. Pojok baca di SDN Grabag 1 berada di pojok kelas dengan beberapa buku bacaan yang bisa dibaca siswa di waktu senggang/ pada saat istirahat.
8.        Membuat papan karya literasi siswa di setiap kelas
Papan karya literasi adalah sebuah papan untuk menempelkan hasil karya literasi siswa. Papan karya literasi ini diprogramkan di setiap kelas. Setiap kelas yang membuat mading, mereka mengisi mading yang sudah ditentukan temanya dan mengisi dengan cerita-cerita anak seperti cerita anak, atau ilustrasi-ilustrasi mengenai fakta unik tumbuhan maupun hewan.
9.        Membuat dinding motivasi di setiap kelas
Dinding motivasi adalah sebuah hiasan dinding kelas yang berisi kata-kata motivasi untuk menginspirasi siswa. Pada setiap kelas terdapat kata-kata motivasi untuk menginspirasi siswa, bisa diprintkan dan ditempel, bisa ditulis tangan dan dikreasikan menurut kreativitas anak-anak.
10.    Mengadakan reading award/ lomba duta literasi sekolah
Agenda reading award/ lomba duta literasi sekolah merupakan salah satu program alternatif untuk memotivasi anak dalam ber-literasi. Beberapa kriteria untuk menjadi duta literasi sekolah antara lain adalah siapa peminjam buku perpustakaan terbanyak dalam setiap triwulan / siapa yang berhasil menyelesaikan banyak buku untuk dibaca dalam setiap triwulan, dll.
11.    One Child Book
Siswa menyumbangkan 1 buku untuk perpustakaan sekolah. Pada akhir tahun ajaran/ kenaikan kelas, siswa menyumbangkan 1 buku untuk referensi/tambahan buku perpustakaan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan Gerakan Literasi Sekolah:
ü  Memberikan contoh/teladan kepada para siswa supaya siswa menjadi terggerak saat melihat para gurunya membaca. Tak hanya guru saja, ini juga perlu dilakukan oleh semua warga sekolah termasuk kepala sekolah bahkan kalau perlu hingga penjaga sekolah juga.
ü  Memberikan akses yang mudah supaya siswa bisa tertarik mendatangi perpustakaan. Misal di perpustakaan terdapat wifi dan proyektor seperti di sekolah kami. Dengan adanya wifi dan proyektor, guru memberikan kesempatan siswa satu kelas untuk melihat film berdurasi pendek dan petugas perpustakaan bisa menampilkan film durasi pendek yang memiliki nilai-nilai karakter siswa. Setelah siswa dalam satu kelas menonton film, siswa diberikan tugas untuk membuat sinopsis cerita film yang baru saja dilihat. Selain itu siswa diminta  menuliskan unsur-unsur cerita seperti judul cerita, tokoh, penokohan/karakter tokoh, alur, seting/latar, dan amanat cerita.
Pembiasaan Membaca di rumah:
1.        Meningkatkan rasa cinta membaca di lingkungan keluarga.
2.        Meningkatkan kemampuan memahami bacaan dan berpikir kritis.
3.    Meningkatkan kemampuan menganalisis dan kemampuan verbal dalam mengulas informasi yang telah didapat dari bacaan.
4.        Mempererat ikatan dan hubungan personal dalam keluarga inti.
5.        Menciptakan budaya literasi di lingkungan keluarga.
6.        Mengembangkan kearifan lokal, nasional, dan global.
            SD Negeri Grabag 1 terdiri dari 24 rombongan belajar dengan setiap tingkatan kelas terdiri dari 4 kelas. Misalnya kelas I terdiri dari 4 kelas, yaitu kelas IA, IB, IC, dan ID. Anak-anak selalu dibiasakan untuk membaca buku cerita di perpustakaan sesuai dengan jadwal kunjung perpustakaan.
            Untuk kelas VI jadwal kunjung perpustakaan setiap hari Sabtu. Namun tidak menutup kemungkinan jika sebelum hari Sabtu anak-anak ada yang ingin meminjam buku perpustakaan untuk mencari referensi materi yang sedang diajarkan oleh guru. Pembiasaan untuk siswa kelas VI adalah meminjam buku di perpustakaan dan mereka diberikan kesempatan untuk membaca. Setelah membaca, mereka diminta untuk menuliskan sinopsis cerita yang mereka baca.
            Mereka menuliskan sinopsis cerita yang mereka baca pada buku literasi. Buku literasi dipersiapkan oleh siswa di awal tahun pelajaran. Buku literasi itu berisi sinopsis cerita yang mereka baca lalu mereka tulis. Guru memberikan saran, kritik terhadap tata penulisan sinopsis yang mereka buat. Baik penggunaan huruf kapital, pemenggalan suku kata, tanda baca. Dari penggunaan huruf kapital yang masih salah, maka kita berikan catatan, pemenggalan suku kata yang masih salah juga kita lingkari dengan tinta merah, begitu juga penggunaan tanda baca.
            Dengan adanya buku literasi tersebut sangat membantu guru dalam melihat siswa yang sudah terbiasa membuat sinopsis cerita dengan siswa yang jarang membaca. Dengan adanya beberapa catatan siswa dalam buku literasi sangat membantu dalam  mengoreksi tata penulisan mereka. Sehingga semakin hari, sinopsis yang mereka buat semakin baik.
            Selain itu, guru juga mengajak siswa untuk membuat cerpen, puisi, pantun, syair, maupun karya tulis. Kemudian karya siswa tersebut dikirim melalui penerbit. Dari buku hasil terbitan karya siswa tersebut membuat siswa semakin termotivasi dalam membuat karya dan mulai membuat mereka tertarik dalam menulis. Di samping itu, siswa karya siswa akan menambah referensi buku di perpustakaan sekolah pada khususnya, dan literasi untuk negeri pada umumnya.
            Guru dan semua warga sekolah tidak mau kalah dengan siswa, setiap hari juga selalu melakukan kegiatan literasi. Misal sebagai warga sekolah selalu membaca koran, majalah, maupun artikel yang ada di sekolah. Guru juga mengembangkan kegiatan literasi dengan membuat karya seperti cerpen, novel, maupun puisi untuk menunjang kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ( PKB) guru yang berguna saat guru mengajukan Penilaian Angka Kredit (PAK). Selain itu karya guru yang dikirim melalui penerbit, tentunya akan menambah jejak guru sebagai penulis yang bisa dijadikan warisan bagi anak, cucu. Dan yang pasti bisa untuk menambah literasi bagi negeri.
            Awalnya karena sebuah tuntutan sebagai PNS yang harus membuat karya untuk mengajukan PAK, namun akhirnya guru-guru mulai menikmati dalam membuat karya. Dari yang semula kurang berminat membuat karya tulisan, akhirnya menjadi semakin termotivasi membuat karya tulisan. Tentunya jejak tulisan kita tidak akan pernah sia-sia.


No comments:

Post a Comment