Di saat sore yang cerah datanglah seorang anak muda ke
toko hewan (
pet shop). Anak muda tersebut bernama Andi. Andi bergegas
masuk ke dalam toko ingin segera melihat contoh-contoh anak anjing
yang dijual di toko itu.
Andi bertanya kepada Pak Eko si pemilik toko itu, “Pak,
bolehkah saya melihat anak-anak anjing yang Bapak jual di sini?”
”Tentu boleh,” jawab Pak Eko.
Pak Eko segera membukakan kandang anjingnya. Ada empat anjing
yang bergegas keluar dari kandangnya dan menghampiri pak Eko, namun satu anjing
terlihat pincang dan terakhir menghampiri pak Eko. Andi bertanya kembali kepada
pak Eko mengenai anjing yang terakhir keluar dari kandangnya.
”Pak, mengapa anak
anjing ini pincang?”
“Anjing ini pincang karena sejak lahir ada kelainan pada
pinggangnya yang membuatnya cacat seumur hidupnya, sehingga dia
susah untuk berjalan bahkan berlari,” jawab Pak Eko.
”Berapa harga anak anjing di sini pak?” tanya
Andi.
”Harga anak anjing di sini sekitar lima ratus ribuan dek.
Adek mau beli yang mana?” jawab Pak Eko.
“Saya memilih anak anjing yang terakhir tadi saja pak,
tapi saat ini saya baru membawa uang Rp100.000,00 pak. Saya akan membeli anak
anjing ini dengan harga sama seperti anak anjing yang lain. Setiap hari saya
akan ke sini dan melunasi semua biayanya.”
Pak Eko pun dengan tegas berkata, “
Dek, jika adek ingin membeli anak anjing, bapak sarankan agar adek jangan
membeli anak anjing yang terakhir tadi. Adek memilih anak anjing yang lainnya
saja ya! Kalau adek tetap ingin memelihara anak anjing ini, adek pelihara
saja tanpa harus membayar. Bapak akan memberikan anak anjing ini
dengan cuma-cuma.”
Namun dengan nada semangat Andi pun kembali berkata,
“Saya tetap memilih anjing yang cacat itu Pak.”
Andi pun mengangkat celana panjangnya dan berkata, “ Kedua
kaki saya ini pun kaki palsu pak. Saya juga tidak bisa melompat, berlari-lari,
bermain seperti teman-teman saya. Saya tahu bagaimana penderitaan anak anjing
yang cacat itu. Saya akan merawatnya dengan baik.”
Pak Eko pun akhirnya merasa malu bahkan terharu akan
sikap peduli juga kasih sayang Andi terhadap anak anjing yang cacat itu.
Seringkali dalam hidup ini kita pun juga kurang bisa
bersyukur dengan apa yang kita miliki, dengan kesempurnaan yang Tuhan berikan kepada
kita dibandingkan orang lain yang mempunyai tubuh fisik yang kurang sempurna
(cacat). Kita bahkan juga seringkali menganggap rendah dan meremehkan orang
lain yang kurang sempurna. Mari kita belajar bersyukur dan menerima setiap
perbedaan yang ada dalam setiap kehidupan ini dengan penuh sukacita.
No comments:
Post a Comment