Saturday, May 2, 2020

Kisah Anjing yang Beruntung


Di saat sore yang cerah datanglah seorang anak muda ke toko hewan ( pet shop). Anak muda tersebut bernama Andi. Andi bergegas masuk ke dalam  toko ingin segera melihat contoh-contoh anak anjing yang dijual di toko itu.
Andi bertanya kepada Pak Eko si pemilik toko itu“Pak, bolehkah saya melihat anak-anak anjing yang Bapak jual di sini?”
”Tentu boleh,” jawab Pak Eko.
Pak Eko segera membukakan kandang anjingnya. Ada empat anjing yang bergegas keluar dari kandangnya dan menghampiri pak Eko, namun satu anjing terlihat pincang dan terakhir menghampiri pak Eko. Andi bertanya kembali kepada pak Eko mengenai anjing yang terakhir keluar dari kandangnya.
”Pak, mengapa anak anjing ini pincang?” 
“Anjing ini pincang karena sejak lahir ada kelainan pada pinggangnya yang membuatnya  cacat seumur hidupnya, sehingga dia susah untuk berjalan bahkan berlari,” jawab Pak Eko.
”Berapa harga  anak anjing di sini pak?” tanya Andi.
”Harga anak anjing di sini sekitar lima ratus ribuan dek. Adek mau beli yang mana?” jawab Pak Eko.
“Saya memilih anak anjing yang terakhir tadi saja pak, tapi saat ini saya baru membawa uang Rp100.000,00 pak. Saya akan membeli anak anjing ini dengan harga sama seperti anak anjing yang lain. Setiap hari saya akan ke sini dan melunasi semua biayanya.”
Pak Eko pun dengan tegas berkata, “ Dek, jika adek ingin membeli anak anjing, bapak sarankan agar adek jangan membeli anak anjing yang terakhir tadi. Adek memilih anak anjing yang lainnya saja ya! Kalau adek tetap ingin memelihara anak anjing ini, adek pelihara saja tanpa harus  membayar. Bapak akan memberikan anak anjing ini dengan cuma-cuma.”
Namun dengan nada semangat Andi pun kembali berkata, “Saya tetap memilih anjing yang cacat itu Pak.”
Andi pun mengangkat celana panjangnya dan berkata, “ Kedua kaki saya ini pun kaki palsu pak. Saya juga tidak bisa melompat, berlari-lari, bermain seperti teman-teman saya. Saya tahu bagaimana penderitaan anak anjing yang cacat itu. Saya akan merawatnya dengan baik.”
Pak Eko pun akhirnya merasa malu bahkan terharu akan sikap peduli juga kasih sayang Andi terhadap anak anjing yang cacat itu.
Seringkali dalam hidup ini kita pun juga kurang bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki, dengan kesempurnaan yang Tuhan berikan  kepada kita dibandingkan orang lain yang mempunyai tubuh fisik yang kurang sempurna (cacat). Kita bahkan juga seringkali menganggap rendah dan meremehkan orang lain yang kurang sempurna. Mari kita belajar bersyukur dan menerima setiap perbedaan yang ada dalam setiap kehidupan ini dengan penuh sukacita.


No comments:

Post a Comment