Monday, May 4, 2020



Kecerobohanku Pengalaman Terbaik

            Suatu kali kakakku jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Wates. Kakak didiagnosa oleh dokter menderita sakit tipes. Kedua orang tuaku menunggu kakak di rumah sakit. Sementara aku dititipkan pakdhe yang rumahnya tidak jauh dari tempat tinggalku.
            Saat itu aku sedang duduk di kelas III SD. Kakakku ada dua. Satu duduk di kelas VI SD. Dan yang satunya lagi duduk di bangku SMP kelas IX. Selisih usia kami tiga tahun. Kakak keduaku bernama Dwi dan kakak pertamaku bernama Ipung. Saat itu Mbak Ipung sedang sakit tipes dan di rawat di rumah sakit.
            Kala Mbak Ipung dirawat di rumah sakit, aku sedang sakit batuk yang belum kunjung sembuh. Orang tua kami meletakkan kotak P3K di dinding bagian atas agar jauh dari jangkauan anak-anak. Karena aku mencari obat batuk di meja biasanya tidak ada, aku memutuskan mengambil kursi untuk meraih obat di kotak P3K.
            Kebetulan kakak sepupuku yang bernama Arni juga sedang main bersamaku. Aku meminta izin untuk minum obat batuk terlebih dulu sebelum kembali bermain dengan Mbak Arni. Saat aku mulai menemukan botol obat, segera kuambil sendok makan untuk meminumnya.
            Segera saja aku meneguk obat itu. Saat kumulai meminum obat batuk dan menelannya, aku mulai merasa aneh karena rasa obat batuknya tidak manis seperti biasa. Aku pun cerita kepada kakak sepupuku.
            “Mbak, kok obat batuknya rasanya pahit ya? Ga biasanya rasanya pahit seperti ini,” ujarku kepada Mbak Arni.
            ”Masak sih! Coba sini mbak lihat!” jawab Mbak Arni.
Aku pun ikut penasaran melihat obat yang baru saja aku minum. Betapa kagetnya aku saat melihat gambar rambut pada botol minuman serupa dengan obat batuk tersebut.
            “Ya, ampun, Dik! Ini bukan obat batuk. Ini obat pembasmi kutu rambut. Itu peditok, Dik,” ucap kakakku gemetaran.
Kakakku pun langsung mencari ayahnya untuk melapor kejadian yang dialami adiknya.
            “Pak … Pak… cepet … cepet … Dik Risna… Dik Risna salah minum obat!” Dengan tergopoh-gopoh ketakutan, kakak menyampaikan apa yang aku alami.
            Begitu pun aku. Rasa yang berkecamuk dalam hati. Rasa cemas dan  takut  luar biasa. Aku membayangkan banyak hal. Jangan-jangan karena aku minum obat berbahaya ini, Tuhan memanggilku cepat di usia SD, gumamku dalam hati.
            Saat pakdhe datang dengan Mbak Arni, aku menangis sejadi-jadinya. Pakdhe segera mengantarku ke rumah sakit tempat kakakku dirawat. Pakdhe membopongku dengan membawa serta obat pembasmi kutu rambut yang aku minum.
            Sesampainya di rumah sakit, bapak melihatku dibopong pakdhe. Bapak pun berlari menghampiriku dengan rasa cemas. Aku segera dibawa dalam ruang periksa. Pakdhe menjelaskan kronologi kejadian yang aku alami.
            Dokter pun merawatku dengan sabar.
            “Dik, pusing tidak? Sakit tidak perutnya? Pengen muntah tidak?” tanya dokter kepadaku.
            “Tidak, Dok! Saya tidak merasa pusing, mual, atau sakit perut, jawabku dengan rasa takut dan cemas.
            “Lha katanya Adik tadi minum obat karena batuk terus, kok sekarang tidak batuk, ya? Wah, besok lagi kalau batuk jangan minum peditok, ya. Tapi minum obat batuk saja,” jawab dokter menggodaku dengan senyum sambil melucu agar aku tidak takut lagi.
            Sontak saja Bapak, Pakdhe, dan aku pun tertawa. Dokter membuang obat peditok tersebut ke dalam tempat sampah. Dan memberi pesan jika setelah pulang dari rumah sakit ada rasa pusing, mual, dan sakit perut, atau ada indikasi yang lain, maka aku disarankan untuk  segera dibawa ke rumah sakit lagi.
            Itu pengalamanku yang tak pernah terlupakan seumur hidupku. Melalui peristiwa tersebut aku belajar untuk lebih teliti dan tidak ceroboh lagi. Tidak tergesa-gesa untuk meminum obat. Sebelumnya harus membaca nama dan  takaran obat yang tertera dalam kemasan obat. Belajar dari kesalahan akan selalu teringat sampai kapan pun. Mari lebih berhati-hati dalam meminum obat ya….


No comments:

Post a Comment