Kecerobohanku
Pengalaman Terbaik
Suatu
kali kakakku jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Wates. Kakak
didiagnosa oleh dokter menderita sakit tipes. Kedua orang tuaku menunggu kakak
di rumah sakit. Sementara aku dititipkan pakdhe yang rumahnya tidak jauh dari
tempat tinggalku.
Saat
itu aku sedang duduk di kelas III SD. Kakakku ada dua. Satu duduk di kelas VI
SD. Dan yang satunya lagi duduk di bangku SMP kelas IX. Selisih usia kami tiga
tahun. Kakak keduaku bernama Dwi dan kakak pertamaku bernama Ipung. Saat itu
Mbak Ipung sedang sakit tipes dan di rawat di rumah sakit.
Kala
Mbak Ipung dirawat di rumah sakit, aku sedang sakit batuk yang belum kunjung
sembuh. Orang tua kami meletakkan kotak P3K di dinding bagian atas agar jauh
dari jangkauan anak-anak. Karena aku mencari obat batuk di meja biasanya tidak
ada, aku memutuskan mengambil kursi untuk meraih obat di kotak P3K.
Kebetulan
kakak sepupuku yang bernama Arni juga sedang main bersamaku. Aku meminta izin
untuk minum obat batuk terlebih dulu sebelum kembali bermain dengan Mbak Arni.
Saat aku mulai menemukan botol obat, segera kuambil sendok makan untuk
meminumnya.
Segera
saja aku meneguk obat itu. Saat kumulai meminum obat batuk dan menelannya, aku
mulai merasa aneh karena rasa obat batuknya tidak manis seperti biasa. Aku pun
cerita kepada kakak sepupuku.
“Mbak,
kok obat batuknya rasanya pahit ya? Ga biasanya rasanya pahit seperti ini,”
ujarku kepada Mbak Arni.
”Masak
sih! Coba sini mbak lihat!” jawab Mbak Arni.
Aku
pun ikut penasaran melihat obat yang baru saja aku minum. Betapa kagetnya aku
saat melihat gambar rambut pada botol minuman serupa dengan obat batuk tersebut.
“Ya,
ampun, Dik! Ini bukan obat batuk. Ini obat pembasmi kutu rambut. Itu peditok,
Dik,” ucap kakakku gemetaran.
Kakakku
pun langsung mencari ayahnya untuk melapor kejadian yang dialami adiknya.
“Pak
… Pak… cepet … cepet … Dik Risna… Dik Risna salah minum obat!” Dengan
tergopoh-gopoh ketakutan, kakak menyampaikan apa yang aku alami.
Begitu
pun aku. Rasa yang berkecamuk dalam hati. Rasa cemas dan takut luar
biasa. Aku
membayangkan banyak hal. Jangan-jangan karena aku minum obat berbahaya ini,
Tuhan memanggilku cepat di usia SD, gumamku dalam hati.
Saat
pakdhe datang dengan Mbak Arni, aku menangis sejadi-jadinya. Pakdhe segera
mengantarku ke rumah sakit tempat kakakku dirawat. Pakdhe membopongku dengan
membawa serta obat pembasmi kutu rambut yang aku minum.
Sesampainya
di rumah sakit, bapak melihatku dibopong pakdhe. Bapak pun berlari
menghampiriku dengan rasa cemas. Aku segera dibawa dalam ruang periksa. Pakdhe
menjelaskan kronologi kejadian yang aku alami.
Dokter
pun merawatku dengan sabar.
“Dik,
pusing tidak? Sakit tidak perutnya? Pengen muntah tidak?” tanya dokter kepadaku.
“Tidak,
Dok! Saya tidak merasa pusing, mual, atau sakit perut,” jawabku dengan rasa takut
dan cemas.
“Lha
katanya Adik tadi minum obat karena batuk terus, kok sekarang tidak batuk, ya?
Wah, besok lagi kalau batuk jangan minum peditok, ya. Tapi minum obat batuk
saja,” jawab dokter menggodaku dengan senyum sambil melucu agar aku tidak takut
lagi.
Sontak
saja Bapak, Pakdhe, dan aku pun tertawa. Dokter membuang obat peditok tersebut
ke dalam tempat sampah. Dan memberi pesan jika setelah pulang dari rumah sakit
ada rasa pusing, mual, dan sakit perut, atau ada indikasi yang lain, maka aku
disarankan untuk segera dibawa ke rumah sakit lagi.
Itu
pengalamanku yang tak pernah terlupakan seumur hidupku. Melalui peristiwa
tersebut aku belajar untuk lebih teliti dan tidak ceroboh lagi. Tidak
tergesa-gesa untuk meminum obat. Sebelumnya harus membaca nama dan takaran
obat yang tertera dalam kemasan obat. Belajar dari kesalahan akan selalu
teringat sampai kapan pun. Mari lebih berhati-hati dalam meminum obat ya….
No comments:
Post a Comment