Hobi
yang Mengantarkan Juara
Namaku
Merlin. Saat pulang sekolah, aku berhenti dan duduk di bawah pohon rindang dekat
sekolahku. Aku senang dengan suasana alam. Kuhirup udara yang segar.
Ku nikmati karya Tuhan yang luar biasa indah. Aku gemar menulis puisi. Sehingga
sembari duduk di bawah pohon, aku mengambil secarik kertas dan menuliskan
puisi. Memang sih selama ini aku hanya hobi saja menulis puisi. Mungkin hobiku
menurun dari ayah yang bekerja sebagai guru bahasa Indonesia.
Setelah
beberapa menit. Aku berhasil menuliskan satu buah puisi. Puisi yang aku beli
judul “Karya Terbesar”. Aku segera menggendong tas ransel, berniat melanjutkan
pulang. Di perempatan jalan dekat dengan rumah, datanglah Fani dan Rio
memanggilku.”Lin, kamu sudah makan belum?Aku tadi dibawakan dua bungkus makanan
ma Ibu. Kamu ikut makan, ya,” kata Fani kepadaku.
”
Oke, Fan. Makasih, ya. Apa buat kamu aza, Rio?” tanyaku.
“Aku
juga tadi dibawakan bekal makanan ma ibuku kok, Lin. Buat kamu aza!” tolak Rio
seraya tersenyum.
Akhirnya,
kami pulang bersama karena kebetulan arah pulang jalannya sama. Kami bercerita
dan bersenda gurau bersama. Kami berteman sejak duduk di bangkuTK. Mereka
anak yang baik, anak yang selalu peduli terhadap teman.
“Mampir
dulu, Lin.” Fani dan Rio berhenti tepat di depan rumah mereka yang memang
bersebelahan.
”Terima
kasih, Fan, Rio. Lain kali saja tak main, ya. Terima kasih lho makanannya.
Sampaikan ke ibumu, ya.”
Walaupun
rumahku sederhana, tetapi penuh kasih sayang dan kebersamaan dengan orang tua.
Mereka selalu mengajarkan untuk saling mengasihi. Orang tuaku memang sangat
luar biasa.
“Lin,
makan dulu. Tadi ibu memasak soto kesukaanmu,” pekik ibu seraya menyiapkan
makan.
“Iya,
Bu.” Ibu juga makan bersamaku.”
Saat
itu ayah belum pulang dari tempat kerja dan biasanya ayah pulangnya
sore. Setelah makan, aku membaca buku di ruang belajar. Lama-lama, rasanya
jenuh, hingga aku memutuskan untuk menulis puisi saja.
“Merlin
… sini! Dari tadi ibu panggil-panggil kok tidak segera ke sini. Kamu sebenarnya
sedang apa?”
Tiba-tiba
terdengar teriakan ibu yang memanggilku. Ah, dari caranya memanggil saja, aku
sudah tahu jika ibu agak kesal. Alhasil, aku segera keluar kamar dan
menghampirinya di dapur.
“Ada
apa, Bu? Maaf tadi Merlin tidak dengar. Merlin sedang belajar, Bu,” jawabku
dengan lembut.
“Ya
sudah. Ibu minta tolong belikan gula jawa 2 kg di warung Bu Rani. Mau masak kok
gulanya habis,”pinta ibu.
Aku
pun segera membeli gula jawa pesanan ibu tanpa menunggu lebih lagi, karena
tidak ingin Ibu marah. Di warung, kebetulan sekali pesanan ibu itu ada. Selepas
membeli gula, aku kembali melanjutkan menulis puisi yang sempat tertunda tadi.
Saat
ini, aku duduk di kelas IV SD Maju Jaya. Hobiku dalam menuliskan sebuah puisi
berawal saat kelas III. Kesukaanku terhadap puisi membuat orang tuaku bangga.
Bagaimana tidak? Setiap pelajaran membuat puisi di kelas, aku bisa dengan mudah
menuliskannya.
Guru-guru
pun heran dengan kepandaianku dalam menulis puisi. Bahkan anak seusiaku, sudah
pandai menggunakan diksi dalam menulis puisi. Ah, aku memang hobi membaca
puisi-puisi, baik di perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah.
“Lin,
besok liburan sekolah kita ke rumah nenek di desa, ya. Kita menengok nenek dan
kakek di sana,” ujar ibu, sekaligus kesempatan terbaik buatku agar bisadengan
lelusa menuliskan puisi tentang alam.
“Bu,
besok Merlin terima raport. Tapi harus ambil orang tua. Jadi … yang mau ambil
raport, Ibu apa Ayah?”
“Besok
Ayah tidak bisa mengambil raportmu, Lin. Kan ayah ada rapat di kantornya. Besok
ibu saja yang ambil.”
***
Semua
wali murid berbondong-bondong ke SD Maju Jaya untuk mengambil raport putra
putrinya. Aku masih menunggu ibu yang belum juga kunjung datang. Padahal
pengambilan raport akan dimulai pukul 08.00. Rasanya hatiku sudah mulai cemas.
Jumlah
siswa satu kelas ada 28 siswa. Bukan hanya aku saja yang harap-harap cemas menunggu
hasil nilai raport semester gasal, namun teman-temanku juga sama. Untuk
mengurangi kecemasan, kami memilih berdoa bersama-sama. Apa pun hasilnya, aku
harus menerima dengan lapang dada.
“Juara
ketiga untuk peraih nilai tinggi nomor tiga adalah Alvaro Nugroho, juara kedua
untuk peraih nilai tinggi kedua adalah Maria Dewi Susanto, dan juara pertama
peraih nilai tertinggi pertama adalah Yohana Merlan Prasetyo,” papar Pak Andi
begitu lantang dan jelas.
“Kepada
wali murid dan putra putri peraih peringkat satu sampai tiga, saya persilakan
untuk ke depan,” tambah Pak Andi. Kami pun segera ke depan bersama-sama dengan
wali murid.
Rasanya
percaya tidak percaya aku bisa mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Puji Tuhan… aku bisa
membuat orang tuaku bangga dengan hasil kerja kerasku dalam belajar. Terima
kasih, Tuhan. Ini semua juga berkat pertolongan dan penyertaan-Mu.
Pak
Andi memberikan ucapan selamat kepada kami dan sesuai dengan janjinya, Pak Andi
memberikan hadiah berupa bingkisan hadiah yang kami tidak tahu apa isinya.
“Selamat, ya. Tingkatkan terus dalam belajar! Jangan patah semangat. Semoga di
semester II bisa tetap mempertahankan prestasi dan jauh lebih baik lagi,” ujar
Pak Andi mengucapkan selamat.
“Siap,
Pak. Terima kasih untuk bimbingannya selama ini,”jawabku.
***
“Lin,
bagaimana hasil nilai raportmu tadi? tanya ayah.
Ibu
pun langsung menjawab dari arah dapur. “Kasih selamat dulu dong, Yah. Merlin
mendapat juara, lho. Merlin
peraih nilai tertinggi di kelas.”
“Wah…hebat
anak ayah sama ibu. Hal yang penting, tetap rendah hati meski kamu mendapat
juara. Karena semua itu juga karena kuasa Tuhan yang memampukanmu. Bukan karena
jerih payahmu sendiri,” ayahku memujiku sekaligus menasihatiku.
“Siap,
Yah. Tuhan memang sungguh baik, Yah.”
“Kamu
mau minta hadiah apa ma Ayah dan Ibu?” timpal ayah, membuatku senang
bukan main.
“Wah,
terserah Ayah ma Ibu saja.”
***
Siang
itu ayah dan ibu baru saja pulang dari belanja. Aku pun segera menghampiri
mereka.
“Ayah
sama Ibu bawa oleh-oleh apa?”tanyaku semangat.
“Itu
Ibu bawakan bakso urat kesukaanmu. Ini dari Ayah, buku-buku puisi buatmu,” seru
Ayah, hingga tak sadar aku melompat kegirangan.
Malam
hari kami mengemas barang-barang bawaan yang akan kami bawa ke tempat Kakek
Nenek. Tidak lupa aku pun membawa buku puisi yang Ayah hadiahkan untukku dan
membawa buku catatan yang berisi kumpulan puisi karyaku.
***
Setiap
hari di tempat nenek, kugunakan waktuku untuk sesekali membuat puisi. Liburan
di tempat Nenek sungguh menyenangkan. Suasana desa yang asri, sejuk, dan damai
kami rasakan. Sampai tak terasa sudah seminggu lamanya kami berada
di kampung halaman nenek.
Hari
berlalu terasa cepat, hingga waktu sekolah pun tiba. Tiba-tiba di sekolah ada
edaran lomba cipta puisi yang langsung diadakan tingkat kabupaten. Biasanya
lomba diseleksi dahulu di tingkat kecamatan, tetapi kali ini tidak
ada seleksi kecamatan. Guru memintaku untuk mewakili sekolah mengikuti lomba
cipta puisi tingkat kabupaten.
Saat
itulah hobiku tersalur. Aku mulai belajar terus untuk membuat puisi. Semakin
kuasah hobiku itu. Orang tuaku mendukungku 100%. Setiap hari aku membuat puisi,
Ayahku selalu membimbingku.
Hingga
akhirnya waktu lomba pun tiba. Ayahku sengaja izin dari tempat kerja untuk
memberiku semangat dalam mengikuti lomba. Saat mengikuti lomba, aku pun dengan
penuh percaya diri menuliskan puisi dengan tema yang sudah ditentukan oleh
panitia lomba.
***
Acara
lomba pun usai. Kami menunggu hasil lomba cipta puisi.
“Apapun
hasilnya, pastinya yang terbaik. Misal mendapat juara, itu bonus jerih payahmu.
Kalau belum juara, jadikan itu sebagai pengalaman berhargamu,” ucap Ayahku
menyemangatiku.
“
Siap, Yah. Aku bisa mewakili lomba ini saja sudah senang sekali, Yah. Tidak
mungkin setiap orang mendapatkan kesempatan sepertiku.”
Beberapa
menit kemudian, juri pun membacakan hasil kejuaraan lomba cipta puisi. “Juara
tiga lomba cipta puisi diraih oleh ananda Gabriela Nungki. Juara dua
lomba cipta puisi diraih oleh ananda Mikhaela Dinda, dan juara satu yang kita
tunggu-tunggu, siapa ya?” Ucapan juri sudah membuatku cemas.
“Juara
I diraih oleh Ananda Yohana Merlin Prasetya. Kepada ketiga juara, kami
persilakan untuk ke depan.” Juri menyebutkan namaku.
Ada
rasa bangga, rasa haru, senang semua campur aduk rasanya. Aku bersyukur kepada
Tuhan, ini semua sudah pasti karena campur tangan-Nya. Begitu juga ayah yang
selalu membimbing di rumah, serta para guru yang selalu membimbingku di
sekolah. Aku pun menerima piala pertama dari lomba cipta puisi ini di tingkat
kabupaten ini.
Juri
memberiku selamat. Juri mengatakan bahwa puisi yang kubuat luar biasa indah.
Padahal aku belum begitu pandai membuat puisi dengan pilihan diksi yang tepat.
Akan tetapi, pujian dari juri itu memberiku semangat untuk lebih dan lebih lagi
belajar tentang puisi. Belajar mengembangkan puisi-puisi yang aku buat. Juri
pun mengingatkanku untuk berusaha lagi untuk maju di tingkat provinsi.
Aku
bisa membuktikan bahwa hobi itu jika diasah dan berusaha dengan
sungguh-sungguh, pasti membuahkan hasil yang memuaskan. Aku bisa mewakili
sekolah untuk lomba cipta puisi dan akan kembali mewakili lomba puisi tingkat
provinsi.
No comments:
Post a Comment