Wednesday, May 6, 2020



Hobi yang Mengantarkan Juara

            Namaku Merlin. Saat pulang sekolah, aku berhenti dan duduk di bawah pohon rindang  dekat sekolahku. Aku senang  dengan suasana alam. Kuhirup udara yang segar. Ku nikmati karya Tuhan yang luar biasa indah. Aku gemar menulis puisi. Sehingga sembari duduk di bawah pohon, aku mengambil secarik kertas dan menuliskan puisi. Memang sih selama ini aku hanya hobi saja menulis puisi. Mungkin hobiku menurun dari ayah yang bekerja sebagai guru bahasa Indonesia.
            Setelah beberapa menit. Aku berhasil menuliskan satu buah puisi. Puisi yang aku beli judul “Karya Terbesar”. Aku segera menggendong tas ransel, berniat melanjutkan pulang. Di perempatan jalan dekat dengan rumah, datanglah Fani dan Rio memanggilku.”Lin, kamu sudah makan belum?Aku tadi dibawakan dua bungkus makanan ma Ibu. Kamu ikut makan, ya,” kata Fani kepadaku.
” Oke, Fan. Makasih, ya. Apa buat kamu aza, Rio?” tanyaku.
“Aku juga tadi dibawakan bekal makanan ma ibuku kok, Lin. Buat kamu aza!” tolak Rio seraya tersenyum.
            Akhirnya, kami pulang bersama karena kebetulan arah pulang jalannya sama. Kami bercerita dan bersenda gurau bersama. Kami berteman sejak duduk di bangkuTK.  Mereka anak yang baik, anak yang selalu peduli terhadap teman.
“Mampir dulu, Lin.” Fani dan Rio berhenti tepat di depan rumah mereka yang memang bersebelahan.
”Terima kasih, Fan, Rio. Lain kali saja tak main, ya. Terima kasih lho makanannya. Sampaikan ke ibumu, ya.”
            Walaupun rumahku sederhana, tetapi penuh kasih sayang dan kebersamaan dengan orang tua. Mereka selalu mengajarkan untuk saling mengasihi. Orang tuaku memang sangat luar biasa.
            “Lin, makan dulu. Tadi ibu memasak soto kesukaanmu,” pekik ibu seraya menyiapkan makan.
“Iya, Bu.” Ibu juga makan bersamaku.”
 Saat itu ayah belum pulang dari tempat kerja dan  biasanya ayah pulangnya sore. Setelah makan, aku membaca buku di ruang belajar. Lama-lama, rasanya jenuh, hingga aku memutuskan untuk menulis puisi saja.
            “Merlin … sini! Dari tadi ibu panggil-panggil kok tidak segera ke sini. Kamu sebenarnya sedang apa?”
Tiba-tiba terdengar teriakan ibu yang memanggilku. Ah, dari caranya memanggil saja, aku sudah tahu jika ibu agak kesal. Alhasil, aku segera keluar kamar dan menghampirinya di dapur.
 “Ada apa, Bu? Maaf tadi Merlin tidak dengar. Merlin sedang belajar, Bu,” jawabku dengan lembut.
“Ya sudah. Ibu minta tolong belikan gula jawa 2 kg di warung Bu Rani. Mau masak kok gulanya habis,”pinta ibu.
            Aku pun segera membeli gula jawa pesanan ibu tanpa menunggu lebih lagi, karena tidak ingin Ibu marah. Di warung, kebetulan sekali pesanan ibu itu ada. Selepas membeli gula, aku kembali melanjutkan menulis puisi yang sempat tertunda tadi.
            Saat ini, aku duduk di kelas IV SD Maju Jaya. Hobiku dalam menuliskan sebuah puisi berawal saat kelas III. Kesukaanku terhadap puisi membuat orang tuaku bangga. Bagaimana tidak? Setiap pelajaran membuat puisi di kelas, aku bisa dengan mudah menuliskannya.
            Guru-guru pun heran dengan kepandaianku dalam menulis puisi. Bahkan anak seusiaku, sudah pandai menggunakan diksi dalam menulis puisi. Ah, aku memang hobi membaca puisi-puisi, baik di perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah.
            “Lin, besok liburan sekolah kita ke rumah nenek di desa, ya. Kita menengok nenek dan kakek di sana,” ujar ibu, sekaligus kesempatan terbaik buatku agar bisadengan lelusa menuliskan puisi tentang alam.
            “Bu, besok Merlin terima raport. Tapi harus ambil orang tua. Jadi … yang mau ambil raport, Ibu apa Ayah?”
“Besok Ayah tidak bisa mengambil raportmu, Lin. Kan ayah ada rapat di kantornya. Besok ibu saja yang ambil.”
***
            Semua wali murid berbondong-bondong ke SD Maju Jaya untuk mengambil raport putra putrinya. Aku masih menunggu ibu yang belum juga kunjung datang. Padahal pengambilan raport akan dimulai pukul 08.00. Rasanya hatiku sudah mulai cemas.
            Jumlah siswa satu kelas ada 28 siswa. Bukan hanya aku saja yang harap-harap cemas menunggu hasil nilai raport semester gasal, namun teman-temanku juga sama. Untuk mengurangi kecemasan, kami memilih berdoa bersama-sama. Apa pun hasilnya, aku harus menerima dengan lapang dada.
“Juara ketiga untuk peraih nilai tinggi nomor tiga adalah Alvaro Nugroho, juara kedua untuk peraih nilai tinggi kedua adalah Maria Dewi Susanto, dan juara pertama peraih nilai tertinggi pertama adalah Yohana Merlan Prasetyo,” papar Pak Andi begitu lantang dan jelas.
            “Kepada wali murid dan putra putri peraih peringkat satu sampai tiga, saya persilakan untuk ke depan,” tambah Pak Andi. Kami pun segera ke depan bersama-sama dengan wali murid.
Rasanya percaya tidak percaya aku bisa mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Puji Tuhan… aku bisa membuat orang tuaku bangga dengan hasil kerja kerasku dalam belajar. Terima kasih, Tuhan. Ini semua juga berkat pertolongan dan penyertaan-Mu.
            Pak Andi memberikan ucapan selamat kepada kami dan sesuai dengan janjinya, Pak Andi memberikan hadiah berupa bingkisan hadiah yang kami tidak tahu apa isinya. “Selamat, ya. Tingkatkan terus dalam belajar! Jangan patah semangat. Semoga di semester II bisa tetap mempertahankan prestasi dan jauh lebih baik lagi,” ujar Pak Andi mengucapkan selamat.
“Siap, Pak. Terima kasih untuk bimbingannya selama ini,”jawabku.
***
            “Lin, bagaimana hasil nilai raportmu tadi? tanya ayah.
Ibu pun langsung menjawab dari arah dapur. “Kasih selamat dulu dong, Yah. Merlin mendapat juara, lho. Merlin peraih nilai tertinggi di kelas.”
“Wah…hebat anak ayah sama ibu. Hal yang penting, tetap rendah hati meski kamu mendapat juara. Karena semua itu juga karena kuasa Tuhan yang memampukanmu. Bukan karena jerih payahmu sendiri,” ayahku memujiku sekaligus menasihatiku.
“Siap, Yah. Tuhan memang sungguh baik, Yah.”
            “Kamu mau minta hadiah apa ma Ayah dan Ibu?” timpal  ayah, membuatku senang bukan main.
“Wah, terserah Ayah ma Ibu saja.”

***
Siang itu ayah dan ibu baru saja pulang dari belanja. Aku pun segera menghampiri mereka.
“Ayah sama Ibu bawa oleh-oleh apa?”tanyaku semangat.
“Itu Ibu bawakan bakso urat kesukaanmu. Ini dari Ayah, buku-buku puisi buatmu,” seru Ayah, hingga tak sadar aku melompat kegirangan.
            Malam hari kami mengemas barang-barang bawaan yang akan kami bawa ke tempat Kakek Nenek. Tidak lupa aku pun membawa buku puisi yang Ayah hadiahkan untukku dan membawa buku catatan yang berisi kumpulan puisi karyaku.
***
            Setiap hari di tempat nenek, kugunakan waktuku untuk sesekali membuat puisi. Liburan di tempat Nenek sungguh menyenangkan. Suasana desa yang asri, sejuk, dan damai kami rasakan. Sampai  tak terasa sudah seminggu lamanya kami berada di kampung halaman nenek.
           
            Hari berlalu terasa cepat, hingga waktu sekolah pun tiba. Tiba-tiba di sekolah ada edaran lomba cipta puisi yang langsung diadakan tingkat kabupaten. Biasanya lomba diseleksi dahulu di tingkat kecamatan, tetapi  kali ini tidak ada seleksi kecamatan. Guru memintaku untuk mewakili sekolah mengikuti lomba cipta puisi tingkat kabupaten.
            Saat itulah hobiku tersalur. Aku mulai belajar terus untuk membuat puisi. Semakin kuasah hobiku itu. Orang tuaku mendukungku 100%. Setiap hari aku membuat puisi, Ayahku selalu membimbingku.
            Hingga akhirnya waktu lomba pun tiba. Ayahku sengaja izin dari tempat kerja untuk memberiku semangat dalam mengikuti lomba. Saat mengikuti lomba, aku pun dengan penuh percaya diri menuliskan puisi dengan tema yang sudah ditentukan oleh panitia lomba.
***
            Acara lomba pun usai. Kami menunggu hasil lomba cipta puisi.
“Apapun hasilnya, pastinya yang terbaik. Misal mendapat juara, itu bonus jerih payahmu. Kalau belum juara, jadikan itu sebagai pengalaman berhargamu,” ucap Ayahku menyemangatiku.
“ Siap, Yah. Aku bisa mewakili lomba ini saja sudah senang sekali, Yah. Tidak mungkin  setiap orang mendapatkan kesempatan sepertiku.”
            Beberapa menit kemudian, juri pun membacakan hasil kejuaraan lomba cipta puisi. “Juara tiga  lomba cipta puisi diraih oleh ananda Gabriela Nungki. Juara dua lomba cipta puisi diraih oleh ananda Mikhaela Dinda, dan juara satu yang kita tunggu-tunggu, siapa ya?” Ucapan juri sudah membuatku cemas.
“Juara I diraih oleh Ananda Yohana Merlin Prasetya. Kepada ketiga juara, kami persilakan untuk ke depan.” Juri menyebutkan namaku.
            Ada rasa bangga, rasa haru, senang semua campur aduk rasanya. Aku bersyukur kepada Tuhan, ini semua sudah pasti karena campur tangan-Nya. Begitu juga ayah yang selalu membimbing di rumah, serta para guru yang selalu membimbingku di sekolah. Aku pun menerima piala pertama dari lomba cipta puisi ini di tingkat kabupaten ini.
            Juri memberiku selamat. Juri mengatakan bahwa puisi yang kubuat luar biasa indah. Padahal aku belum begitu pandai membuat puisi dengan pilihan diksi yang tepat. Akan tetapi, pujian dari juri itu memberiku semangat untuk lebih dan lebih lagi belajar tentang puisi. Belajar mengembangkan puisi-puisi yang aku buat. Juri pun mengingatkanku untuk berusaha lagi untuk maju di tingkat provinsi.
            Aku bisa membuktikan bahwa hobi itu jika diasah dan berusaha dengan sungguh-sungguh, pasti membuahkan hasil yang memuaskan. Aku bisa  mewakili sekolah untuk lomba cipta puisi dan akan kembali mewakili lomba puisi tingkat provinsi.


No comments:

Post a Comment